Kediri tidak hanya dikenal sebagai kota tahu dan daerah yang kaya peninggalan sejarah. Di balik kehidupan kotanya yang terus berkembang, Kediri juga menyimpan banyak ruang spiritual yang menarik untuk dikunjungi. Wisata religi Kediri menawarkan pengalaman yang lebih dalam bukan sekadar datang, berfoto, lalu pulang, tetapi juga belajar tentang sejarah, tradisi, arsitektur, dan kerukunan antarumat beragama.
Menariknya, destinasi religi di Kediri tidak hanya berasal dari satu latar belakang keagamaan. Pemerintah Kota Kediri mencatat sejumlah tempat dalam direktori wisata religi, mulai dari pondok pesantren, situs makam, masjid, klenteng, gereja, hingga pura. Beberapa di antaranya adalah Situs Setono Gedong atau Makam Mbah Wasil, Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Gereja Merah, dan Pura Penataran Agung Kilisuci.
Mengapa Wisata Religi Kediri Menarik?
Daya tarik utama wisata religi Kediri ada pada perpaduan antara nilai spiritual dan nilai edukatif. Pengunjung bisa berziarah, berdoa, sekaligus memahami bagaimana sebuah tempat ibadah atau situs bersejarah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Kediri.
Bagi wisatawan lokal, tempat-tempat ini sering menjadi tujuan ziarah keluarga. Bagi pelajar atau pencinta sejarah, wisata religi Kediri dapat menjadi ruang belajar tentang akulturasi budaya, penyebaran agama, hingga peninggalan masa kolonial. Sementara bagi pembaca umum, perjalanan ke destinasi religi bisa menjadi cara sederhana untuk mengenal Kediri dari sisi yang lebih tenang dan reflektif.
- Makam Mbah Wasil Setono Gedong
Salah satu ikon wisata religi Kediri yang paling dikenal adalah Makam Mbah Wasil di kawasan Setono Gedong. Nama lengkap tokoh ini kerap disebut sebagai Syekh Sulaiman Syamsudin Al-Wasil. Pemerintah Kota Kediri menyebut makam ini berada di area Kelurahan Setono Gedong, Jalan Dhoho, tepat di pusat kota.
Makam Mbah Wasil menjadi tujuan ziarah karena masyarakat setempat meyakini beliau memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Kediri. Namun, sumber sejarah tentang sosok Mbah Wasil memiliki beberapa versi, sehingga pengunjung sebaiknya melihat situs ini bukan hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami tradisi lisan masyarakat Kediri. Pemerintah Kota Kediri juga mencatat bahwa literatur yang memastikan sosok Mbah Wasil masih terbatas, meskipun nama beliau sangat dikenal di kalangan peziarah.
Kawasan Setono Gedong semakin menarik karena berada di tengah kota. Setelah berziarah, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan Jalan Dhoho, pusat aktivitas ekonomi yang mudah diakses dari berbagai titik Kota Kediri.
- Masjid Agung Kota Kediri
Destinasi berikutnya adalah Masjid Agung Kota Kediri. Masjid ini berada di Jalan Panglima Sudirman No. 160 dan disebut sebagai salah satu masjid terbesar serta termegah di Kota Kediri. Berdasarkan informasi Pemerintah Kota Kediri, masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1771 dan dahulu dikenal sebagai Masjid Jami’ Kediri. Bangunannya telah beberapa kali direnovasi, dengan pemugaran terakhir pada 2006.
Masjid Agung Kota Kediri memiliki fungsi yang luas. Selain sebagai tempat sholat, masjid ini juga digunakan untuk kegiatan keagamaan, pengajian, akad nikah, hingga acara masyarakat. Desainnya memadukan sentuhan Timur Tengah dengan karakter masjid Nusantara, sehingga cocok dikunjungi oleh wisatawan yang ingin melihat perkembangan arsitektur masjid di Kediri.
Bagi pengunjung yang ingin berwisata dengan tetap menjaga adab, datanglah di luar waktu salat utama jika ingin melihat suasana masjid dengan lebih leluasa. Gunakan pakaian sopan, jaga kebersihan, dan hormati jamaah yang sedang beribadah.
- Gereja Merah Kediri
Gereja Merah atau GPIB Immanuel Kediri adalah salah satu bangunan bersejarah yang menjadi wajah toleransi dan keragaman Kediri. Pemerintah Kota Kediri menyebut gereja ini sebagai bangunan peninggalan kolonial Belanda yang berlokasi di Jalan KDP Slamet. Gereja ini berdiri sejak 1904 dan disebut sebagai gereja tertua di Karesidenan Kediri.
Secara visual, Gereja Merah mudah dikenali dari warna merah pada bangunannya. Nilai edukatifnya terletak pada sejarah dan arsitektur. Gereja ini dirancang oleh J.A. Broers, yang juga merupakan pendeta pada masa itu, dan kemudian diserahkan kepada GPIB Jemaat Immanuel sejak 1948.
Untuk wisatawan, Gereja Merah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga penanda sejarah kota. Namun, karena masih aktif digunakan sebagai rumah ibadah, pengunjung sebaiknya tidak sembarangan masuk, terutama saat ada kegiatan keagamaan. Dokumentasi foto pun sebaiknya dilakukan dari area yang diperbolehkan.
- Gereja Katolik Puhsarang dan Gua Maria Lourdes
Jika berbicara tentang wisata religi Kediri, Gereja Katolik Puhsarang dan Gua Maria Lourdes Puhsarang tidak boleh dilewatkan. Desa Puhsarang di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, dikenal sebagai desa wisata religi umat Katolik. Kementerian Agama Kabupaten Kediri bahkan menyoroti Puhsarang sebagai ruang hidup moderasi beragama, tempat masyarakat lintas iman terbiasa berdampingan dan menjaga harmoni.
Kementerian Pariwisata juga mencatat Puhsarang sebagai desa di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, yang dikenal dengan Gereja Katolik Puhsarang dan kompleks ziarahnya. Salah satu tradisi penting di tempat ini adalah ziarah ke Gua Maria Lourdes Puhsarang, terutama dalam rangkaian perayaan Paskah.
Selain nilai spiritual, Puhsarang juga menarik dari sisi arsitektur. Gereja ini dikenal memiliki perpaduan gaya Eropa dan Majapahit. Pemerintah Kota Kediri mencatat peletakan batu pertama Gereja Puhsarang dilakukan pada 11 Juni 1936.
Bagi pengunjung umum, kawasan Puhsarang cocok untuk wisata reflektif. Suasananya lebih tenang dibanding pusat kota. Wisatawan dapat belajar tentang arsitektur, tradisi ziarah Katolik, sekaligus melihat praktik kerukunan masyarakat lokal.
- Klenteng Tjoe Hwie Kiong
Kediri juga memiliki destinasi religi bernuansa Tionghoa, yaitu Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Dalam direktori wisata religi Pemerintah Kota Kediri, klenteng ini tercatat berada di Jalan Yos Sudarso No. 148, Kediri.
Bagi wisatawan, klenteng ini menarik karena menghadirkan suasana arsitektur khas Tionghoa yang berbeda dari destinasi religi lainnya. Warna, ornamen, dan tata ruangnya memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan dan budaya Tionghoa menjadi bagian dari lanskap Kota Kediri.
Saat berkunjung ke klenteng, penting untuk menjaga sikap. Hindari membuat suara berlebihan, jangan menyentuh perlengkapan ibadah tanpa izin, dan tanyakan kepada pengelola jika ingin mengambil foto di area tertentu.
- Pura Penataran Agung Kilisuci
Dalam daftar wisata religi Kota Kediri, Pemerintah Kota Kediri juga mencantumkan Pura Penataran Agung Kilisuci yang berada di Jalan Goa Selomangleng No. 52, Pojok, Kecamatan Mojoroto. Keberadaan pura ini menunjukkan bahwa wisata religi Kediri tidak hanya berpusat pada destinasi Islam dan Kristen, tetapi juga mencerminkan keragaman umat beragama. Untuk wisatawan yang ingin belajar tentang toleransi, Pura Penataran Agung Kilisuci dapat menjadi salah satu titik kunjungan edukatif, terutama jika dipadukan dengan wisata sejarah di kawasan Goa Selomangleng.
Etika Berkunjung ke Wisata Religi Kediri
Agar perjalanan lebih bermakna, pengunjung perlu memahami bahwa destinasi religi bukan sekadar objek wisata. Banyak lokasi masih aktif digunakan untuk ibadah. Karena itu, etika menjadi hal utama.
Gunakan pakaian sopan, jaga ucapan, jangan mengganggu orang yang sedang berdoa, dan ikuti aturan setempat. Jika ingin mengambil gambar, pastikan area tersebut memang diperbolehkan untuk dokumentasi. Untuk lokasi makam, hindari bercanda berlebihan atau melakukan tindakan yang dapat dianggap tidak menghormati peziarah lain.
Selain itu, dukung ekonomi lokal dengan membeli makanan, minuman, atau produk UMKM di sekitar destinasi. Wisata religi yang dikelola dengan baik bukan hanya menjaga nilai spiritual, tetapi juga dapat menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Rekomendasi Rute Singkat Wisata Religi Kediri
Jika hanya memiliki waktu satu hari, wisatawan dapat memulai dari pusat Kota Kediri. Rute yang mudah adalah Makam Mbah Wasil Setono Gedong, Masjid Agung Kota Kediri, lalu Gereja Merah. Ketiganya relatif mudah dijangkau karena berada di kawasan kota.
Jika memiliki waktu lebih panjang, lanjutkan perjalanan ke Puhsarang di Kecamatan Semen. Destinasi ini cocok dikunjungi saat pagi atau sore hari agar suasana terasa lebih nyaman. Wisatawan yang tertarik melihat keragaman tempat ibadah juga dapat menambahkan Klenteng Tjoe Hwie Kiong dan Pura Penataran Agung Kilisuci ke daftar kunjungan.
Wisata religi Kediri adalah perjalanan yang mempertemukan ziarah, sejarah, arsitektur, dan nilai kerukunan. Dari Makam Mbah Wasil yang lekat dengan tradisi Islam, Masjid Agung yang menjadi pusat kegiatan umat, Gereja Merah sebagai peninggalan kolonial, Puhsarang sebagai ruang ziarah Katolik, hingga klenteng dan pura yang menunjukkan keragaman budaya, Kediri menawarkan pengalaman yang kaya dan edukatif.
Bagi wisatawan, mengunjungi tempat-tempat ini bukan hanya soal melihat bangunan. Lebih dari itu, wisata religi Kediri mengajak kita memahami bahwa sejarah kota dibentuk oleh banyak jejak spiritual yang hidup berdampingan hingga hari ini.
FAQ Wisata Religi Kediri
Apa saja wisata religi Kediri yang populer?
Beberapa wisata religi Kediri yang populer antara lain Makam Mbah Wasil Setono Gedong, Masjid Agung Kota Kediri, Gereja Merah, Gereja Katolik Puhsarang, Gua Maria Lourdes Puhsarang, Klenteng Tjoe Hwie Kiong, dan Pura Penataran Agung Kilisuci.Apakah wisata religi Kediri hanya untuk umat tertentu?
Tidak. Banyak destinasi religi dapat dikunjungi masyarakat umum selama pengunjung menjaga adab, berpakaian sopan, dan menghormati kegiatan ibadah yang sedang berlangsung.Di mana lokasi Makam Mbah Wasil Kediri?
Makam Mbah Wasil berada di kawasan Setono Gedong, Jalan Dhoho, Kota Kediri. Lokasinya berada di pusat kota sehingga relatif mudah dijangkau.Kapan waktu terbaik berkunjung ke wisata religi Kediri?
Pagi dan sore hari biasanya lebih nyaman. Untuk lokasi yang masih aktif digunakan beribadah, hindari jam ibadah utama jika tujuan kunjungan adalah wisata edukatif atau dokumentasi.Mengapa Puhsarang terkenal sebagai wisata religi?
Puhsarang dikenal karena Gereja Katolik Puhsarang dan Gua Maria Lourdes Puhsarang. Kawasan ini menjadi salah satu tujuan ziarah umat Katolik dan juga dikenal sebagai ruang praktik moderasi beragama di Kabupaten Kediri.










